September 9, 2026

Ragam Budaya: Suku-suku di Sulawesi


Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat beragam. Keragaman tersebut tercermin dari banyaknya suku bangsa yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Setiap suku memiliki bahasa, adat istiadat, kesenian, serta tradisi yang menjadi identitas sekaligus kekayaan bangsa.

Buku Ragam Budaya: Suku-suku di Sulawesi mengajak pembaca mengenal lebih dekat keragaman suku yang mendiami Pulau Sulawesi. Pulau ini tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena keberagaman masyarakat yang telah membentuk corak budaya yang unik dan beragam.

Disusun oleh RD Dewantoro dan Maria N., buku ini memperkenalkan sejumlah suku yang ada di Sulawesi, antara lain Suku Bugis, Mandar, Toraja, Makassar, Buton, Talaud, Balaesang, Tolaki, Pattae, Duru, Moronene, Minahasa, dan Pamona. Melalui penjelasan yang ringkas dan mudah dipahami, pembaca diajak mengenal identitas, tradisi, serta kekhasan budaya dari masing-masing suku.

Keragaman yang disajikan dalam buku ini menunjukkan bahwa setiap suku memiliki karakteristik budaya yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat melalui kehidupan masyarakat, adat istiadat, bahasa, serta berbagai kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kekayaan tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Sulawesi sekaligus memperkaya khazanah budaya Indonesia.

Pengenalan terhadap berbagai suku dan kebudayaan juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga warisan budaya. Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, pengetahuan mengenai budaya daerah perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami dan menghargai keberagaman yang ada di lingkungan sekitarnya. Dengan mengenal budaya, pembaca tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar menghargai perbedaan.

Buku ini dapat menjadi bahan bacaan yang menarik bagi anak-anak dan pelajar untuk mengenal keberagaman suku di Sulawesi secara lebih dekat. Penyajiannya yang bersifat pengenalan membuat buku ini dapat dimanfaatkan sebagai bacaan pendamping dalam memperkenalkan budaya daerah, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun perpustakaan.

Kehadiran buku ini menjadi penting sebagai sarana memperluas wawasan tentang keberagaman budaya Indonesia, khususnya budaya masyarakat Sulawesi. Pengenalan terhadap berbagai suku bangsa sejak dini dapat menumbuhkan sikap saling menghargai, memperkuat rasa persatuan, serta meningkatkan kecintaan terhadap warisan budaya Nusantara.

Buku ini dapat diakses secara digital melalui BintangPusnas Edu, layanan baca digital Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pembaca dapat mengunduh aplikasi BintangPusnas Edu, melakukan login atau pendaftaran akun, kemudian mencari judul Ragam Budaya: Suku-suku di Sulawesi untuk membacanya secara digital.



Ragam Budaya: Suku-suku di Sulawesi
Penyusun: RD Dewantoro dan Maria N.
Penerbit: Kyta
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2022
ISBN: 978-623-396-066-3

August 31, 2026

GURUTTA: Gerakan Ulama Tradisional di Sulawesi Selatan 1905–1945


Perjalanan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan tidak dapat dilepaskan dari peran para ulama yang menjadi pengajar, pendakwah, sekaligus pembentuk tradisi keilmuan di tengah masyarakat. Melalui pengajian, pendidikan madrasah, karya-karya keagamaan, dan pembinaan generasi muda, para ulama tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga membangun fondasi pendidikan dan kehidupan sosial keagamaan yang terus berkembang dari masa ke masa. Jejak perjuangan dan pemikiran mereka menjadi bagian penting dari sejarah masyarakat Sulawesi Selatan yang patut terus dikaji dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Buku Gurutta: Gerakan Ulama Tradisional di Sulawesi Selatan 1905–1945 mengungkap perjalanan intelektual, pendidikan, dakwah, serta perjuangan para ulama tradisional dalam membangun kehidupan keislaman di Sulawesi Selatan. Buku ini memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan Islam tumbuh melalui hubungan guru dan murid, pengajian, madrasah, karya tulis, hingga keterlibatan ulama dalam dinamika sosial dan politik pada masa kolonial dan sesudahnya.

Salah satu tokoh sentral yang dibahas adalah Gurutta Haji Muhammad As'ad, ulama kelahiran Makkah dari keluarga Bugis asal Wajo. Setelah menempuh pendidikan agama di Tanah Suci dan berguru kepada sejumlah ulama Arab maupun Nusantara, Muhammad As'ad kembali ke Sengkang untuk mengabdikan ilmunya kepada masyarakat. Pengajian yang dirintisnya berkembang menjadi Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), yang kemudian menjadi salah satu tonggak penting perkembangan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Ia juga meninggalkan sejumlah karya tulis yang membahas berbagai persoalan akidah, fikih, tafsir, sejarah Nabi, dan ibadah.

Dari lingkungan pendidikan Muhammad As'ad lahir sejumlah ulama dan pendidik penting, salah satunya Gurutta Haji Abdurrahman Ambo Dalle. Berawal dari murid yang kemudian dipercaya membantu pengembangan MAI, Ambo Dalle turut mendorong perubahan sistem pembelajaran dari pola mangngaji kitta menuju sistem klasikal. Pengabdiannya berlanjut di Mangkoso setelah mendapat amanah mengembangkan pendidikan Islam di wilayah tersebut. Dari Mangkoso, tradisi pendidikan yang dibangunnya berkembang menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam dan dakwah di Sulawesi Selatan.

Buku ini juga merekam perjalanan Gurutta Haji Muhammad Abduh Pabbaja, ulama yang dikenal karena ketekunan, kedisiplinan, dan keteguhannya dalam memegang prinsip. Setelah berguru kepada Muhammad As'ad selama bertahun-tahun, ia mengabdikan diri melalui madrasah, dakwah, perjuangan pada masa revolusi, hingga dunia pendidikan tinggi. Kiprahnya menunjukkan bahwa peran ulama tidak hanya terbatas pada pengajaran agama, tetapi juga bersentuhan dengan persoalan sosial, pendidikan, pemerintahan, dan kehidupan kebangsaan.

Tokoh lainnya adalah Gurutta Haji Daud Ismail, yang menggambarkan panjangnya perjalanan seorang penuntut ilmu sebelum akhirnya menjadi pendidik dan pemimpin lembaga pendidikan. Berasal dari Soppeng, Daud Ismail menempuh pendidikan dari berbagai guru, termasuk pengalaman belajar di Makkah, sebelum berguru kepada Muhammad As'ad di Sengkang. Ia kemudian menjadi pengajar sekaligus salah satu murid senior dalam sistem pendidikan yang dikembangkan Muhammad As'ad. Setelah wafatnya sang guru, Daud Ismail menerima amanah melanjutkan pembinaan Madrasah Arabiyah Sengkang hingga kemudian kembali mengembangkan pendidikan Islam di Soppeng melalui pesantren.

Secara keseluruhan, buku ini tidak hanya menghadirkan biografi sejumlah ulama, tetapi juga menempatkan mereka dalam konteks gerakan ulama tradisionalis di Sulawesi Selatan. Pembahasannya mencakup latar belakang kultural dan struktural, pembentukan tradisi Islami, pengaruh kolonialisme, perkembangan pendidikan dan dakwah, hingga keterlibatan ulama dalam jihad dan politik.

Melalui kisah para gurutta, buku ini memperlihatkan bahwa pendidikan dan dakwah menjadi instrumen penting dalam membentuk masyarakat Muslim Sulawesi Selatan. Jejak pengabdian Muhammad As'ad, Ambo Dalle, Muhammad Abduh Pabbaja, dan Daud Ismail menunjukkan bagaimana ilmu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sekaligus melahirkan jaringan pendidikan Islam yang pengaruhnya terus terasa dalam perjalanan sejarah Sulawesi Selatan.


GURUTTA: Geraakan Ulama Tradisional DiSulawesi Selatan 1905-1945
Penulis: Mustari Bosra
Penerbit: Samudra Biru (Anggota IKAPI)
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-623-261-250-1

August 30, 2026

Selayang Pandang Sulawesi Selatan

 

Sulawesi Selatan bukan sekadar wilayah yang berada di bagian selatan Pulau Sulawesi. Provinsi ini memiliki posisi strategis sebagai salah satu pintu gerbang menuju kawasan Indonesia timur sekaligus menjadi pusat pertumbuhan bagi wilayah di sekitarnya. Kekayaan alam, keberagaman masyarakat, kebudayaan, serta peninggalan sejarah menjadikan Sulawesi Selatan memiliki karakter yang khas.

Gambaran mengenai berbagai potensi tersebut dapat ditemukan dalam buku Selayang Pandang Sulawesi Selatan karya Iswanto. Buku ini menjadi salah satu bacaan yang memperkenalkan Sulawesi Selatan secara lebih luas, mulai dari kondisi geografis hingga kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakatnya.

Pembahasan dalam buku diawali dengan gambaran umum Sulawesi Selatan, meliputi letak geografis, lambang dan identitas daerah, serta sejarah pemerintahan. Bagian ini memberikan dasar bagi pembaca untuk memahami posisi dan karakter wilayah sebelum memasuki pembahasan mengenai kekayaan alam dan kehidupan masyarakatnya.

Dari sisi lingkungan, Sulawesi Selatan digambarkan memiliki kekayaan daratan dan perairan yang potensial. Kondisi tanah yang subur, ketersediaan air, kekayaan laut, serta keberadaan flora dan fauna menjadi bagian dari sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomi sekaligus ekologis. Potensi tersebut menjadi peluang bagi masyarakat untuk dikembangkan, tetapi pada saat yang sama membutuhkan pengelolaan yang bijaksana agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.

Buku ini juga mengulas berbagai jenis sumber daya alam yang dimiliki Sulawesi Selatan serta pentingnya upaya pelestarian. Pesan tersebut menjadi salah satu hal penting dalam buku, yakni pembangunan dan pemanfaatan sumber daya tidak seharusnya hanya berorientasi pada pengambilan keuntungan saat ini. Kekayaan alam perlu dijaga agar tetap dapat memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.

Tidak hanya alam, perhatian buku juga diarahkan pada sumber daya manusia. Keberagaman suku bangsa menjadi salah satu kekuatan sosial Sulawesi Selatan. Kondisi penduduk, pendidikan, dan kesehatan turut dibahas sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan suatu daerah. Dengan demikian, kemajuan Sulawesi Selatan tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi juga oleh kualitas dan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi yang tersedia.

Aspek kebudayaan mendapat ruang yang cukup penting dalam buku ini. Pembaca diperkenalkan dengan bahasa daerah, arsitektur tradisional, pakaian tradisional, kesenian, upacara adat, senjata tradisional, hingga makanan khas. Ragam kebudayaan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Sulawesi Selatan memiliki tradisi yang berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Keberagaman budaya tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa identitas Sulawesi Selatan terbentuk dari perjalanan masyarakat yang panjang. Tradisi yang masih dikenal hingga kini bukan hanya menjadi bagian dari kehidupan sosial, tetapi juga memiliki potensi sebagai kekayaan budaya dan daya tarik pariwisata. Karena itu, pengenalan terhadap budaya lokal menjadi penting, terutama bagi generasi muda agar warisan tersebut tidak terputus oleh perkembangan zaman.

Selain kebudayaan, Selayang Pandang Sulawesi Selatan mengajak pembaca menelusuri peninggalan sejarah dan situs prasejarah yang tersebar di wilayah Sulawesi Selatan. Situs, bangunan, dan makam bersejarah menjadi bukti perjalanan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Peninggalan tersebut memiliki nilai penting sebagai sumber pengetahuan sekaligus sebagai bagian dari identitas daerah.

Menariknya, buku ini tidak berhenti pada upaya memperkenalkan berbagai potensi Sulawesi Selatan. Ada pesan yang lebih luas, yakni pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk mengenali, memanfaatkan, sekaligus melestarikan kekayaan daerah. Potensi alam dan budaya akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila dikelola secara arif dan tidak mengabaikan keberlanjutannya.

Dari sisi penyajian, buku ini dapat menjadi bacaan pengenalan bagi pembaca yang ingin memperoleh gambaran mengenai Sulawesi Selatan dalam satu rangkaian pembahasan. Materinya mencakup berbagai aspek, mulai dari geografi, lingkungan alam, sumber daya alam, penduduk, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, hingga peninggalan sejarah. Cakupan tersebut membuat pembaca dapat melihat Sulawesi Selatan bukan hanya dari satu sisi, melainkan sebagai daerah yang memiliki keterkaitan antara alam, manusia, budaya, dan sejarah.

Bagi pelajar dan masyarakat umum, buku ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih dekat daerah Sulawesi Selatan. Informasi mengenai kekayaan alam dan budaya tidak sekadar menjadi pengetahuan, tetapi juga dapat menumbuhkan kesadaran bahwa potensi daerah merupakan tanggung jawab bersama untuk dijaga. Terlebih di tengah perkembangan zaman, pengenalan terhadap identitas dan sejarah daerah menjadi semakin penting.

Pada akhirnya, Selayang Pandang Sulawesi Selatan menawarkan cara sederhana untuk melihat Sulawesi Selatan sebagai daerah yang kaya dan beragam. Kekayaan tersebut mencakup bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga manusia, tradisi, kebudayaan, dan jejak peradaban masa lalu.

Buku karya Iswanto ini pada dasarnya membawa satu pesan penting: mengenali potensi daerah harus berjalan beriringan dengan upaya menjaganya. Kekayaan Sulawesi Selatan bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tetapi juga merupakan warisan yang harus dipertahankan agar tetap dapat memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang.

Selayang Pandang Sulawesi Selatan
Penulis: Iswanto
Penerbit: PT Intan Pariwara
Tempat terbit: Klaten
Tahun terbit: 2008
e-ISBN: 978-979-28-2706-4
Akses: BintangPusnas Edu

August 19, 2026

Kamus Istilah Perpustakaan dan Manajemen Informasi

 


Judul:                           Distionary of Library and Information Management

Penulis:                        Janet Stevenson

Editor:                          -

Penerbit:                     Peter Collin Publishing, Great Britain

Tahun Terbit:             1997

Jumlah Halaman:    176

ISBN:                            0948549688

Bahasa:                       Inggris

Penulis Resensi:         Suharman, S.S., MIM.

Buku Dictionary of Library and Information Management karya Janet Stevenson, yang diterbitkan pada tahun 1997, merupakan salah satu referensi penting dalam bidang ilmu perpustakaan dan dokumentasi. Kehadiran buku ini menjawab kebutuhan para profesional dan praktisi akan sebuah panduan terminologi yang komprehensif pada akhir abad ke-20. Pada masa itu, dunia perpustakaan sedang mengalami transformasi besar dari sistem pengelolaan tradisional menuju otomatisasi dan digitalisasi berbasis teknologi informasi.

Melalui karya ini, Janet Stevenson menyusun ribuan kosakata, akronim, serta konsep penting yang mencakup berbagai aspek perpustakaan dan manajemen informasi. Ruang lingkup bahasannya meliputi teknik pengolahan bahan pustaka tradisional seperti katalogisasi dan klasifikasi, hingga topik yang lebih modern seperti manajemen arsip, jaringan komputer, serta sistem temu kembali informasi (information retrieval). Buku ini disusun secara sistematis berdasarkan abjad untuk memudahkan keterbacaan dan pencarian istilah secara cepat.

Fokus utama penyusunan kamus ini tidak hanya sekadar memberikan definisi leksikal, melainkan menyajikan penjelasan kontekstual yang relevan dengan praktik kerja sehari-hari. Stevenson berhasil menjembatani batasan antara ilmu perpustakaan klasik dan disiplin ilmu informasi yang berkembang pesat. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menjadi alat bantu bagi pustakawan, melainkan juga bagi para manajer data, arsiparis, serta akademisi yang berkecimpung dalam ekosistem informasi.

Salah satu nilai tambah yang ditawarkan oleh buku ini adalah cara penulis mengartikan istilah-istilah teknis yang rumit menjadi definisi yang ringkas dan padat. Penyajian entri yang lugas membuat pembaca dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa yang baru mendalami bidang ini, dapat dengan mudah memahami konsep-konsep dasar tanpa terjebak dalam jargon yang terlalu membingungkan atau berbelit-belit.

Kelebihan utama dari buku karya Janet Stevenson ini terletak pada kelengkapan dan kecermatannya dalam merangkum istilah interdisipliner. Cakupan materinya yang luas menghubungkan teknik dokumentasi konvensional dengan awal mula era teknologi informasi, menjadikannya rujukan yang sangat praktis dan informatif. Struktur penulisan yang rapi dan konsisten juga menambah kenyamanan pembaca dalam menelusuri tiap halaman referensi ini.

Meski demikian, buku ini juga memiliki keterbatasan yang perlu dicermati dari sudut pandang saat ini. Mengingat tahun terbitnya pada 1997, beberapa perkembangan terminologi modern—seperti cloud computing, big data, analisis media sosial, hingga kecerdasan buatan dalam perpustakaan digital—belum terakomodasi di dalamnya. Selain itu, sebagai sebuah kamus, format penyajiannya cenderung kaku dan hanya berfokus pada definisi tanpa memberikan contoh kasus penerapan yang lebih mendalam.

Secara keseluruhan, Dictionary of Library and Information Management karya Janet Stevenson tetaplah sebuah karya referensi yang monumental dan bernilai tinggi. Buku ini berhasil merekam secara cermat perkembangan dan transisi kosakata dalam dunia perpustakaan pada era 1990-an. Bagi para akademisi, peneliti sejarah ilmu informasi, mahasiswa jurusan perpustakaan dan manajemen informasi maupun praktisi pustakawan, karya ini merupakan fondasi konseptual yang sangat berguna untuk memahami pilar-pilar dasar manajemen informasi.



Enlightened Leadership (Kepemimpinan yang Mencerahkan)

 


Judul:                           Englightened Leadrship, Getting to The Heart of Change

Penulis:                        Ed Oakley & Doug Krug

Editor:                          Nina Amir

Penerbit:                     Fireside, New York

Tahun Terbit:             1994

Jumlah Halaman:    265

ISBN:                            0671866745

Bahasa:                      Inggris

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Buku Enlightened Leadership: Getting to the Heart of Change yang ditulis oleh Ed Oakley dan Doug Krug merupakan salah satu karya klasik dalam literatur manajemen dan kepemimpinan. Terbit pada tahun 1994, buku ini hadir sebagai panduan praktis bagi para pemimpin organisasi yang ingin membawa perubahan positif tanpa harus memicu resistensi yang destruktif dari tim mereka. Melalui pendekatan psikologis dan manajerial yang intuitif, kedua penulis berhasil merumuskan kembali esensi dari kepemimpinan yang adaptif dan inklusif.

Fokus utama dari buku ini terletak pada pergeseran paradigma dari gaya kepemimpinan otoriter (top-down) menuju kepemimpinan yang mencerahkan (enlightened leadership). Oakley dan Krug menegaskan bahwa keberhasilan suatu perubahan dalam organisasi tidak ditentukan oleh seberapa ketat seorang pemimpin mengontrol anggotanya, melainkan seberapa mampu ia memberdayakan potensi terbaik dari setiap individu. Dalam pandangan mereka, pemimpin masa kini tidak lagi bertindak sebagai pahlawan yang tahu semua jawaban, melainkan sebagai fasilitator yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan tepat.

Salah satu gagasan paling menonjol dalam buku ini adalah penggunaan pertanyaan sebagai alat utama manajemen perubahan (question-based leadership). Penulis menjelaskan bahwa ketika pemimpin memberikan petunjuk atau instruksi langsung, respon alami bawahan sering kali adalah bertahan atau ragu-ragu. Sebaliknya, ketika pemimpin mengajukan pertanyaan yang konstruktif dan menggugah, anggota tim merasa dihargai dan diajak berpikir, sehingga ide-ide perubahan lahir dari mereka sendiri dan menciptakan rasa memiliki (ownership) yang tinggi terhadap keputusan organisasi.

Di samping itu, Enlightened Leadership juga memberikan kerangka kerja yang sistematis untuk mengubah fokus mental organisasi dari masalah menuju solusi. Penulis mengajarkan teknik untuk mengarahkan energi tim agar tidak terjebak pada pencarian kesalahan (blame game), melainkan berfokus pada langkah-langkah nyata yang dapat diambil untuk mencapai kondisi ideal. Hal ini menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, transparan, dan sarat akan kepercayaan antaranggota tim.

Salah satu kelebihan utama dari buku ini adalah penyampaian materinya yang sangat praktis dan mudah dipahami. Meski mengusung konsep kepemimpinan yang mendalam, penulis menyajikannya dengan bahasa yang lugas, dilengkapi dengan studi kasus nyata, contoh dialog, serta kerangka kerja (framework) yang dapat langsung diterapkan oleh para praktisi di berbagai tingkatan manajemen. Selain itu, penekanan pada aspek empati dan partisipasi aktif menjadikan buku ini tetap relevan dalam konteks dinamika organisasi modern saat ini.

Namun demikian, buku ini tidak bebas dari kekurangan. Dari sudut pandang masa kini, beberapa contoh kasus dan analogi yang digunakan terasa agak berjarak karena ditulis pada era sebelum ledakan era digital dan kerja jarak jauh (remote work). Selain itu, bagi pembaca yang mencari analisis teoretis yang sangat mendalam atau metodologi riset akademis yang ketat, buku ini mungkin terasa terlalu populer dan cenderung repetitif pada beberapa penekanan konsep dasarnya.

Secara keseluruhan, Enlightened Leadership: Getting to the Heart of Change adalah bacaan yang sangat berharga bagi para manajer, eksekutif, maupun siapa saja yang ingin mengasah keterampilan memimpin. Ed Oakley dan Doug Krug berhasil membuktikan bahwa perubahan sejati tidak dapat dipaksakan dari luar, melainkan harus ditumbuhkan dari dalam melalui komunikasi yang efektif dan pemberdayaan manusia secara bermakna. Buku ini merupakan fondasi penting untuk membangun budaya kerja yang adaptif, inovatif, dan humanis.